![]() |
| Jantur Ataai, My Favourite Waterfall |
Keinginan untuk pergi ke Kutai Barat tak pernah terbenak di pikiran saya. Sore itu, saat di kamar. Tiba – tiba kakak laki – laki saya datang dan bilang “Al, mau nggak ke Kutai Barat?” ajaknya. Padahal ia sudah pernah pergi kesana. Gara-gara keinginan yang kuat untuk menjelajahi objek wisata alam yang belum sempat dikunjungi, ia ingin pergi kesana lagi. Awalnya sempat ragu – ragu ikut karena waktu libur tenang kuliah sebentar saja dan perjalanan kesana sangatlah jauh. Tapi, mendengar cerita kakak saya bahwa Kutai Barat punya banyak sekali Air Terjunnya dan saya belum pernah kesana, Jiwa travelling saya pun terpanggil. Jadi, saya memutuskan ikut. Kami berangkat pada Hari Sabtu, 23 Desember 2017.
Seminggu
sebelum berangkat, kami sudah ancang-ancang untuk mempersiapkan keperluan apa
saja yang harus dibawa. Mulai dari pakaian, jaket agar melindungi cuaca yang
panas, pengecekan kendaraan agar aman selama perjalanan, dan tentu saja DUIT.
Hehehe.....
Saat perjalanan,
kami nekat naik motor yang memakan waktu kurang lebih 9 jam dari
Samarinda. Ditemani matahari yang selalu menyinari diri dan tentu saja itu
sangat capek. Tapi, ada satu spot yang membuat semua itu terbayarkan. Yaitu
pohon sawitnya. Areanya sangat luas. Saya takjub...! pohon – pohon itu berjejer
rapi dan indah dipandang. Mereka seolah bernyanyi dengan desiran angin yang
merdu. Apalagi jalanan disana sepi, mereka seperti memperhatikan kami saat
lewat. I like it :D. Aksesibilitas ke Kutai Barat cukup bagus dan mudah. Kalian
cukup ikuti jalan besarnya saja dan petunjuk arah yang sudah di tampilkan di
beberapa sudut.
Kami tiba di
Kutai Barat khususnya Melak pada sore
hari. Bila kalian ingin berkunjung disini, kalian tak perlu khawatir karena masyarakat
Kutai Barat juga banyak menyediakan tempat penginapan. Alhamdulillah kami punya
keluarga disana yang kebetulan liburan ke Samarinda. Jadi, kami berdua tidak
perlu repot- repot lagi mencari tempat penginapan. Setelah sampai di tempat
tujuan, tentu saja saya langsung mencari tempat tidur. Hahaha... untuk
menghilangkan kelelahan di tubuh ini. Malamnya,
kami buat rencana ingin kemana saja dan tidur kembali.
Day 1 to start a journey
Jantur Gemuruh
adalah tujuan pertama kami. Pagi – pagi sebelum berangkat, kami sarapan dulu di
salah satu pasar dekat rumah. Melak sendiri areanya tidak terlalu luas sehingga
bila berkunjung kalian bakal cepat hapal situasi dan kondisi jalan disini. Toko
– toko yang berjualan pun cukup banyak dan lengkap meski tidak sama seperti
Kota Besar lainnya yang ada di Kalimantan Timur. At least, cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari – hari. Selesai sarapan, kami menyempatkan berkunjung ke
jembatan yang hampir rampung di Melak
![]() |
| Kakak saya berpose di latarbelakangi sebuah jembatan di Melak |
Jembatan Aji Tulur Jejangkat adalah sebuah jembatan yang akan menghubungkan kecamatan Melak dan Mook Manar Bulatn. Seterusnya akan menjadi sarana penghubung antara Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Kutai Kartanegara serta ibukota provinsi Kalimantan Timur, yakni Samarinda. Pemasangan tiang pertama dimulai pada tanggal 14 Agustus 2008. Jembatan yang melintasi sungai Mahakam bagian hulu ini direncanakan memiliki panjang sekitar 1.040 meter. Insyaallah, dari berita dan informasi yang saya baca jembatan ini akan rampung di tahun 2018 ini.
Setelah
berkunjung ke Jembatan ini, kami pulang dan siap – siap menuju Jantur Gemuruh. Perjalanan
yang ditempuh berjarak sekitar 10 km dari Melak dan dapat dilalui oleh roda dua
dan empat. Area parkir pun ada. Tapi, kita harus berjalan kaki lagi turun ke
air terjunnya. Untung saja cuaca bagus, jadi tidak licin saat turun tangga.
![]() |
| Tangga menuju Jantur Gemuruh |
![]() |
| Ini saya. maaf, wajahnya tidak terlihat. Terlalu Ganteng Hahaha.. |
Jantur
Gemuruh memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Keistimewaan air terjun ini yaitu terdapat candi – candi peninggalan
Kerajaan Hindu yang dikenal dengan Batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorong yang
dibuat dibawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 m. Lokasi ini cocok
untuk dijadikan lokasi penelitian pihak kepurbakalaan. Saat
tiba disini, memang benar airnya sangat gemuruh dan sejuk. Waktu itu hanya kami
berdua disana. Semakin terasa suasana alamnya dan terdengar jelas burung –
burung berkicau di sekitar air terjun ini. Dan tips saya bila berkunjung kesini
adalah bawa handbody anti nyamuk. Banyak banget nyamuk besar dan bodohnya saya
adalah salah memakai kostum. Pulang – pulang badan penuh benjolan.
Day 2 to My Favorite Waterfalls
Sebelum
menuju tempat favorit, kami berkunjung ke objek wisata lainnya yaitu Danau Aco.
Danau ini juga sejalur dan berdekatan dengan beberapa objek wisata lainnya. Untuk
menempuh perjalanan ke sana, kalian harus melewati jalanan berkelok dengan
tikungan tajam selama 30 menit dari gerbang kampung sampai ke atas.
Setelah
melewati gerbang danau, nampak hamparan pepohonan hijau. Danau ini terletak menjorok
ke dalam di bawah sana. Kalian harus turun tangga yang cukup panjang hingga sampai
ke tepi danau.
Di
sisi kiri dan kanan tangga berbaris tanaman berdaun merah seolah memagari
tangga. Sesampainya di bawah, mata disajikan hamparan danau dikelilingi hutan
lebat yang masih hijau. Danau nya tidak terlalu besar. Diameternya hanya 100
meter. Rasanya betah berlama-lama duduk di bawah pohon di tepian danau sambil
menikmati riak air.
Setelah
cukup puas menikmati Danau Aco , kami melanjutkan perjalanan ke air terjun favorit
saya yaitu Jantur Ataai. Dari informasi papan petunjuk, air terjun tersebut seolah
– olah dekat. Ternyata tidak! Jalanan nya yang masih bebatuan dan tanah serta
arah petunjuk yang kurang jelas karena ketutupan tumbuh- tumbuhan lebat membuat
perjalanan kami makin jauh. ada sekitar satu jam kami mencari bolak – balik Air
terjun ini. Sedikit sekali ada penduduk yang berlalu lalang. Kami sempat pupus
harapan dan berniat kembali ke rumah. Dan untung saja, ada dua orang lewat yang
ternyata mereka ingin kesana juga. Ikutlah kami dengan mereka. Gila! Mereka bawa
motor cepat sekali. Jalanan yang mengerikan itu mereka hantam saja dan kami
kehilangan jejak mereka. Kami coba mengikuti jalan yang ada. Selang beberapa
menit, kami menemukan Papan bertuliskan “Selamat datang di Jantur Ataai”.
“Yeah...
Akhirnya”. Teriak saya setelah melakukan perjalanan yang melelahkan
Kalian
harus berhati -hati saat turun tangga karena tangganya yang curam. Saya sarankan
untuk melepas alas kaki dan berpegangan pada tangan tangga. Bila berkunjung
kesini, bagusnya di cuaca yang cerah karena saat itu jalanan kering dan aman. Kebayang
kan kalau hujan? Becek ga ada ojek. Hehe...
“Wow”
kata itu yang pertama kali saya ucapkan saat melihat Jantur Ataai. Saya langsung
jatuh cinta. Semua terbayarkan dengan keindahan air terjunnya yang dihiasi batu
– batu berbentuk balok bernilai seni. Kami merasa aman karena ternyata ada
masyarakat bersuku dayak sedang gathering bersama keluarga nya. Oiya, Mayoritas
masyarakat Kutai Barat adalah Suku Dayak. Jadi, banyak pria tampan dan wanita
nya yang cantik – cantik disini. Mereka juga sangat ramah dan menawarkan makanan
yang mereka masak dengan alat tradisional. Setelah makan, saya memutuskan mandi.
Air nya pun tidak dalam dan cukup dingin. Aman bagi kalian yang ingin mandi
tapi tidak bisa berenang. Saat sore tiba, cukup sudah kami menikmati Air Terjun
Jantur Ataai ini. Kami pulang dengan perasaan lega dan gembira karena dapat
menemukan Air terjun yang recommended untuk dikunjungi.
Day 3 to The Last WaterFall we visited
Perjalanan
objek wisata yang terakhir yaitu Jantur Inaar. Air terjun terbesar yang ada di
Kalimantan Timur khususnya Kutai Barat. Berjarak sekitar 30 km dari pusat kota
Sendawar. Untuk menuju lokasi ini dapat dicapai menggunakan kendaraan roda maupun
empat dan jalan kesana sangat baik karena sudah di aspal dengan memakan waktu sekitar
1 jam.
Air
terjun ini berada di kiri jalan menuju Dempar, ibukota kecamatan Nyuatan. Akan Nampak
papan nama Jantur Inaar yang terpampang jelas. Kurang lebih 400 meter
perjalanan dilanjutkan melalui jalan tanah hingga tiba di lokasi. Untuk sampai
ke dasar air terjun ini harus turun ke bawah melewati sekitar 200 anak tangga
yang berjarak 20 cm satu sama lain. Kalian harus berhati – hati melewati anak
tangga ini karena hampir rapuh dan rusak. Apesnya, cuaca hari itu gerimis . Tidak
ada pengawasan maupun orang disana. Jadi kami banyak berdoa agar dilindungi
dari marabahaya.
Jantur
Inaar memiliki ketinggian sekitar 30 Meter. Air terjun masih kelihatan alami
dengan lumut – lumut yang menempel di batu -batu dan tumbuhan liar di
sekelilingnya. Saya sarankan untuk pergi kesini rame – rame karena suasana
angker nya sangat terasa apalagi mendengar mitos dan legenda yang ada disini. Makin
merinding...! Tapi, bagi kalian yang tidak percaya begituan. Pas Banget untuk
kesini.. Jiwa Adventure mu pasti terpanggil. Karena masih alami, fasilitas yang
di sediakan pun terbatas seperti Toilet yang kurang baik dan tidak adanya
tempat sampah. Selain itu, kita tidak bisa berenang di Jantur Inaar karena air
nya yang tidak dalam. Tapi tempat yang cocok untuk Berkemah.
Terakhir
artinya sampai disini saja perjalanan saya mengunjungi objek – objek wisata
yang ada di Kutai Barat. Saya sangat senang berkunjung ke Kutai Barat karena menyimpan banyak air terjun dan akan menjelajah
lagi objek wisata serta air terjun yang belum dikunjungi. Dan tips paling penting untuk kalian
bila berkunjung ke Kutai Barat adalah SIAP kan fisik kalian karena perjalanannya
yang jauh dan melelahkan dan jangan lupa selalu bawa jaket kemanapun kamu pergi.
Mungkin
itu saja cerita pengalaman saya, jangan lupa untuk follow, komen serta masukan dan sarannya ya..
Terimakasih 😊














Comments
Post a Comment